Mercator vs Equal Earth: Mengapa Proyeksi Peta Penting bagi Calon Mahasiswa Geography dan GIS

Sebuah peta dunia terlihat seperti fakta yang netral. Namun, ketika permukaan bumi yang bulat dipindahkan ke bidang datar, selalu ada unsur yang berubah: bentuk, ukuran, jarak, atau arah. Karena itu, memahami proyeksi peta bukan sekadar topik pelajaran Geography. Ini adalah latihan penting untuk membaca data, memeriksa visualisasi, dan membuat keputusan berbasis lokasi.

Perhatian publik terhadap perbedaan proyeksi kembali meningkat setelah pemberitaan tentang dorongan untuk meninggalkan penggunaan peta Mercator sebagai tampilan dunia umum dan mempertimbangkan Equal Earth.[1] Bagi siswa SMA Indonesia, diskusi ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal Geography, Geographical Information Systems (GIS), cartography, remote sensing, dan data visualisation.

Tidak ada peta dunia datar yang sempurna

Bumi berbentuk tiga dimensi, sedangkan atlas, poster, dan layar ponsel bersifat dua dimensi. Proyeksi peta adalah aturan matematis untuk mengubah posisi di permukaan bumi menjadi koordinat pada bidang datar. Proses ini selalu membawa distorsi; pertanyaannya adalah distorsi mana yang paling dapat diterima untuk tujuan tertentu.

Peta Mercator dikembangkan pada 1569 untuk membantu navigasi laut.[1] Proyeksi ini sangat berguna ketika tujuan utama adalah mempertahankan arah lokal, sehingga rute pelayaran dapat digambar sebagai garis lurus tertentu. Namun, proyeksi ini tidak mempertahankan luas relatif wilayah. Daerah yang semakin jauh dari khatulistiwa tampak jauh lebih besar daripada ukuran sebenarnya.[1]

Inilah alasan mengapa membandingkan peta tidak boleh berhenti pada pertanyaan “mana yang terlihat benar”. Pertanyaan yang lebih baik adalah: peta ini dibuat untuk pekerjaan apa?

Apa yang berbeda pada Equal Earth?

Equal Earth adalah proyeksi pseudocylindrical untuk peta dunia yang dirancang pada 2018 oleh Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny.[2] PROJ—perangkat lunak geospasial terbuka yang mendokumentasikan proyeksi tersebut—menjelaskan bahwa Equal Earth mempertahankan ukuran relatif area, berbeda dengan Robinson projection yang menjadi inspirasinya.[2]

Dalam praktiknya, “equal-area” berarti sebuah wilayah tidak dibuat tampak lebih luas atau lebih sempit secara relatif dibanding wilayah lain. Ini membuat Equal Earth berguna ketika pembaca perlu membandingkan skala wilayah, misalnya untuk peta persebaran penduduk, tutupan hutan, risiko iklim, produksi pertanian, atau statistik global.

Namun, Equal Earth bukan berarti bebas distorsi. Bentuk, jarak, dan arah tidak akan akurat di seluruh bagian peta sekaligus. Karena itu, Equal Earth bukan pengganti universal untuk setiap peta; ia adalah pilihan yang lebih sesuai untuk kebutuhan tertentu, terutama komunikasi visual skala dunia yang membutuhkan perbandingan luas yang lebih adil.

Mengapa isu ini relevan untuk siswa Indonesia?

Saat menerima infografik tentang perubahan iklim, perdagangan, populasi, bencana, atau migrasi, siswa sering langsung membaca angka dan warna. Padahal, pilihan proyeksi juga memengaruhi kesan visual sebuah peta. Literasi peta berarti mampu bertanya:

  • Proyeksi apa yang digunakan?
  • Apakah peta ditujukan untuk navigasi, membandingkan luas, mengukur jarak, atau menceritakan persebaran data?
  • Bagian dunia mana yang paling terdistorsi?
  • Apakah legenda, skala, sumber data, dan tahun data tersedia?
  • Apakah kesimpulan visual sesuai dengan data yang ditampilkan?

Kebiasaan ini membuat siswa lebih kritis terhadap visualisasi, bukan hanya lebih baik menghafal letak negara. Kemampuan tersebut juga berguna saat membaca dashboard bisnis, peta banjir, rute transportasi, peta kesehatan masyarakat, dan citra satelit.

Hubungannya dengan jurusan Geography, GIS, dan bidang terkait

Jika Anda menyukai peta, lingkungan, kota, teknologi, atau data, proyeksi peta dapat menjadi petunjuk bahwa bidang geospasial mungkin cocok untuk Anda. Di universitas luar negeri, topik ini dapat muncul dalam beberapa programme berikut:

Geography

Geography menghubungkan proses fisik—seperti iklim, bentang alam, dan bencana—dengan aktivitas manusia, seperti urbanisasi, mobilitas, pembangunan, dan ketimpangan ruang. Peta digunakan untuk menyusun pertanyaan, menguji pola, dan menyampaikan temuan.

GIS dan Geospatial Science

GIS memadukan lokasi, basis data, pemetaan, analisis spasial, serta kadang pemrograman. Mahasiswa dapat mempelajari cara memilih coordinate reference system, mengelola data lokasi, membuat peta tematik, dan menganalisis pola. Geographical Association menekankan bahwa peta, atlas, dan GIS membantu pelajar mengidentifikasi, memplot, merepresentasikan fitur, serta menelaah pengambilan keputusan spasial.[3]

Cartography dan Data Visualisation

Cartography bukan hanya menggambar peta. Bidang ini membahas desain, simbol, warna, label, proyeksi, aksesibilitas, dan etika komunikasi visual. Data visualisation memperluas kemampuan tersebut ke grafik, dashboard, dan cerita berbasis data. Siswa yang menikmati desain sekaligus analisis dapat mempertimbangkan kombinasi ini.

Environmental Science, Urban Planning, dan Remote Sensing

Pemetaan juga penting dalam pemantauan hutan, kualitas air, mitigasi bencana, perencanaan kota, transportasi, kesehatan lingkungan, dan analisis citra satelit. Programme berbeda akan memiliki penekanan berbeda: sains lingkungan dapat lebih kuat pada proses alam; urban planning pada kebijakan dan kota; sementara remote sensing sering menggunakan data sensor dan citra.

Keterampilan yang dapat mulai dibangun dari SMA

Anda tidak perlu menunggu kuliah untuk melatih cara berpikir spasial. Mulailah dari proyek kecil yang dapat dijelaskan dengan baik:

  1. Bandingkan dua proyeksi. Amati bagaimana Indonesia, Greenland, Afrika, atau Rusia berubah tampilannya. Jangan hanya menyebut “berbeda”; jelaskan jenis distorsinya dan tujuan tiap peta.
  2. Buat peta tematik sederhana. Gunakan data terbuka yang jelas sumber dan tahunnya, lalu tampilkan satu pertanyaan: misalnya persebaran ruang hijau, titik fasilitas publik, atau perubahan penggunaan lahan di satu wilayah.
  3. Catat keputusan desain. Tulis alasan memilih warna, klasifikasi data, proyeksi, skala, dan label. Dokumentasi seperti ini menunjukkan proses berpikir Anda.
  4. Pelajari dasar data. Spreadsheet, statistik deskriptif, visualisasi, dan pengantar coding dapat memperkuat portofolio GIS.
  5. Jaga etika data. Data lokasi dapat sensitif. Jangan memetakan alamat pribadi, kelompok rentan, atau lokasi yang dapat membahayakan orang tanpa pertimbangan yang tepat.

Untuk aplikasi universitas, portofolio yang baik tidak harus rumit. Yang penting adalah pertanyaan yang jelas, sumber data yang transparan, metode yang dapat dijelaskan, dan refleksi atas keterbatasan peta.

Cara menilai programme luar negeri

Saat menelusuri programme Geography atau GIS di Australia, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru, Singapura, atau negara lain, jangan hanya melihat nama jurusannya. Periksa:

  • mata kuliah tentang GIS, cartography, remote sensing, statistics, atau programming;
  • pilihan proyek lapangan, studio, atau capstone project;
  • perangkat lunak dan fasilitas lab geospasial;
  • peluang magang atau kerja sama dengan pemerintah, industri, atau organisasi lingkungan;
  • contoh riset staf dan karya mahasiswa;
  • syarat mata pelajaran SMA, nilai, bahasa Inggris, portofolio, serta tenggat aplikasi pada halaman resmi universitas.

Nama programme dapat mirip, tetapi isi kurikulumnya bisa sangat berbeda. Verifikasi informasi entry requirement, biaya, beasiswa, visa, dan tenggat secara langsung pada situs resmi institusi karena ketentuan tersebut dapat berubah.

Dari peta ke cara berpikir

Perdebatan Mercator dan Equal Earth bukan ajakan untuk menganggap satu gambar sebagai satu-satunya kebenaran. Pelajaran utamanya adalah bahwa representasi visual membawa pilihan teknis dan konsekuensi interpretasi. Siswa yang belajar menanyakan tujuan, sumber, metode, dan keterbatasan sebuah peta sedang membangun kebiasaan yang berharga dalam Geography, GIS, sains, desain, dan pengambilan keputusan berbasis data.

Jika Anda ingin mengeksplorasi jurusan Geography, GIS, Environmental Science, Urban Planning, atau programme geospasial di luar negeri, RIM Education dapat membantu Anda memetakan pilihan studi yang sesuai dengan minat, profil akademik, dan rencana masa depan. Hubungi kami untuk konsultasi awal di https://rimeducation.com/en/contact-us.

Sources

[1] https://www.theguardian.com/world/2026/sep/04/un-vote-world-map-mercator-equal-earth-africa — UN to vote on adopting new world map that shows Africa’s true scale — The Guardian [2] https://proj.org/en/stable/operations/projections/eqearth.html — Equal Earth — PROJ documentation [3] https://geography.org.uk/blogs/how-mapping-and-the-use-of-gis-enrich-geographical-thought-and-action — How mapping and the use of GIS enrich geographical thought and action — Geographical Association